Cara Berpikir Kader PMII Tetaplah Sejalan dengan NU


Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU Zastrow Al-Ngatawi menekankan kepada kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dalam cara berpikir, agar tetap sejalan dengan dimensi NU. Hal itu ditekankannya mengingat NU sebagai political scienties.

Pernyataan itu ia utarakan saat didaulat menyampaikan ular-ular peringatan 7 hari wafatnya H Arief Mudatsir Mandan (ketua umum IKA PMII) yang diselenggarakan PC PMII dan IKA PMII Jepara berlangsung di masjid kampus UNISNU Jepara, Ahad (16/11) malam.

Kenapa mesti demikian? Mantan asisten pribadi Gus Dur itu menjelaskan pikiran kita (kader PMII, red) dibanding faunding fathers NU tentu lebih unggul mereka.

Zastrouw menyontohkan saat KH Chudlori Tegalrejo Magelang dimintai fatwa terkait dua warga yang saling berselisih antara pentingnya sedekah untuk masjid dan gamelan.

Alhasil dari perselisihan itu Kiai Chudlori lebih memilih sumbangan yang didapat untuk nguri-nguri gamelan. “Karena yang nyumbang untuk masjid banyak jumlahnya. Sedangkan yang nyumbang untuk eksistensi gamelan belum tentu ada,” urainya.

Bisa jadi, orang yang berkecimpung dalam kesenian yang telah dibantu itu lanjutnya juga akan turut serta memikirkan masjid. “Ini strategi para ulama. Strategi berbudaya dan berbangsa,” imbuhnya.

Kisah lain yang patut menjadi tauladan kader PMII ialah dinamika dua tokoh ulama antara KH Bisri Sansuri dan KH Wahab Hasbullah tatkala rembugan NU dan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR), waktu itu.

Kiai Bisri memiliki pendapat NU tidak patut bergabung di DPR. Alasannya, jika ikut berkecimpung di dalamnya sama artinya dengan gasab kekuasaan. Sedangkan Kiai Wahab berbalik pendapat dengan Kiai Bisri. Mbah Wahab lebih cocok NU harus turut andil dalam berbangsa dan bernegara.

Dari perselisihan itu NU akhirnya memutuskan bergabung dengan DPR-GR. “Luar biasanya Kiai Bisri menghargai keputusan organisasi. Namun beliau tetap konsisten dengan pendapatnya meski hanya sebagai opini pribadi,” tegas pimpinan grup musik Ki Ageng Ganjur, menambahkan.

Zastrouw mengingatkan kepada kader PMII agar keputusan-keputusan organisasi dijalankan meski pendapat secara pribadi tidak sesuai. “Sebab pendiri NU telah memberikan tauladan yang luar biasa kepada kita,” lanjutnya.

Semestinya warga NU yang rentan centang-perenang hal ihwal politik harus malu dengan pendiri NU. Kedepan perlu diperbaiki tak lain dengan meneladani dan melakukan apa yang telah diwariskan tokoh-tokoh NU tersebut. (Syaiful Mustaqim)

Sumber: NU Online


Admin Unisnu

Komentar