Kenaikan BBM Mencekik Industri Mebel Rumahan


Dampak Kenaikan BBM Terhadap UMKM di Kabupaten Jepara (bag. 1)

Pada tanggal 17 november 2014, Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan kenaikan harga BBM, yang dimulai tanggal 18 november 2014. Harga BBM diantaranya, premium dari harga Rp.6.500 menjadi Rp.8.500 dan solar dari Rp.5.500 menjadi Rp.7.500. Dari kenaikan tersebut, menuai banyak dampak di berbagai kalangan mulai dari kalangan mahasiswa, pengusaha meubel, pengusaha tempe, pekerja dan lain sebagainya yang ada di Kabupaten Jepara.

Kenaikan BBM Mencekik Industri Mebel Rumahan

Dampak kenaikan BBM menjadikan para pengrajin mebel di Jepara sementara masih menjual produk mebel dengan harga lama, meski keuntungan kecil tidak menjadi masalah karena yang penting usaha tetap lancar agar roda ekonomi keluarga bisa jalan.

“Jika harga jual mebel dinaikkan maka akan ada penurunan pembeli, sehingga dikhawatirkan modal kami yang kecil akan lama kembalinya dan usaha bisa saja tidak jalan,” ujar seorang pengrajin mebel, Ahmad, Sabtu (22/11/2014).

Kebijakan mematok harga tetap juga kebetulan harga bahan baku (kayu) masih belum naik mengikuti kenaikan harga BBM, hanya saja dari segi ongkos buruh yang mau tidak mau harus dinaikkan mengikuti kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Kalau ongkos buruh tidak dinaikkan, tentu dikhawatirkan ‘meloncat’ ke tempat usaha lain, namun demikian masalah harga ini kami dalam posisi menunggu dan melihat situasi perkembangan harga bahan baku dan konsumen,” ujarnya.

Gaji para buruh selalu mengalami kenaikan, tetapi satu masalah yang ada dari tahun ke tahun adalah etos kerja para buruh selalu bermasalah tidak mampu mengikuti irama persaingan yang terjadi, dengan tanpa kreativitas yang seharusnya nyata diwujudkan. Menurut salah satu pekerja meubel kenaikan BBM ini sangat mepengaruhi perekonomiannya. Mereka merasa keberatan karena belum tentu gaji naik, “Kalo gaji naik tidak masalah, kita sebagai pekerja mengikuti kebijakan dari pemerintah” kata Agus salah satu pekerja meubel. Dengan gaji rata-rata Rp 25.000/hari cuma habis di buat makan sama beli bensin.

Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jelas berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan, karena harus melakukan nego harga dengan para pelanggan yang cenderung tidak mau membeli barang dengan harga tinggi, meski harga BBM sudah naik. Karena itu, hingga kini belum berani menaikkan harga mebel sehingga harga masih tetap seperti biasa. Untuk kualitas bahan masih tetap sama tanpa perbedaan sedikit pun, karena hampir semua bahan kayu jati. “Tingkat ketebalan kayu akan mempengaruhi harga jual, bahan finishing (kerapian dan ketelitian) serta tingkat kesulitan mengukir,” ujarnya. Khusus pembeli secara kargo biaya angkutan ditanggung sepenuhnya pembeli. Hal tersebut jelas merugikan para pengrajin kayu, karena setiap pengrajin memiliki pengeluaran beban produksi berbeda beda.

Penulis: Siska Alfiani dan Rino Andriansyah Mahasiswa Prodi Akuntansi B


Admin Unisnu

Komentar