Tradisi Baratan Sebagai Bentuk Pelestarian Budaya Jepara


Oleh: Nilis Zakiyah

Nisfu Sya’ban merupakan hari peringatan islam yang  jatuh pada pertengahan bulan Sya’ban.  Pada malam ini masyarakat muslim membaca do’a Nisfu Sya’ban dan membaca surat yasin sebanyak tiga kali sehabis sholat maghrib untuk mendapat pengampunan dari Allah atas ditutupnya buku amalnya selama satu tahun.  Dan berdo’a agar menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya pada awal pembukaan amal manusia dibukukan. Menurut Al-Ghazali, malam ke 13 pada bulan Sya’ban Allah SWT memberikan sepertiga  syafaat kepada hambanya. Sedangkan malam ke 14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke 15, umat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun.

Karena pada malam ke 15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT. Sehingga imam Ghozali mengistilahkan malam nisfu sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Dalam budaya masyarakat Jepara khususnya yang berada di sekitar wilayah kalinyamatan dan sekitarnya,  peringatan  Nisfu Sya’ban dirayakan dengan pawai Baratan. Baratan adalah tradisi masyarakat Jepara berupa arak-arakan lampion (impes) setiap 15 Sya’ban atau 15 hari sebelum Puasa Ramadlan.  Tradisi baratan berkaitan  erat dengan peristiwa pembunuhan Sultan Hadirin , suami Ratu Kalinyamat, yang dilakukan oleh Arya Penangsang. Konon pada waktu itu terjadi saat menyambut iring-iringan rombongan yang membawa jenazah Sultan Hadirin dan masyarakat banyak membawa impes atau lampion sepanjang jalan sebagai kehormatan dan terjadi bertepatan dengan Nisfu Sya’ban. Kata “baratan” berasal dari sebuah kata Bahasa Arab, yaitu “bara’ah” berarti keselamatan atau “barakah” berarti keberkahan. Tradisi Baratan dilaksanakan setiap tanggal 15 ruwah (kalender jawa) yang bertepatan pada malam Nisfu Sya’ban.

Sebelum Pawai Baratan dimulai  masyarakat membaca surat Yasin tiga kali dan  membaca do’a Nisfu Sya’ban, yang di pimpin oleh kyai atau ulama setempat di masjid/mushola secara berjama’ah. Kemudian dilanjut dengan makan (bancaan) puli  bersama-sama dan melepas arak-arakan. Kata Puli berasal dari Bahasa Arab afwu lii, yang berarti “maafkanlah aku”. Puli merupakan makanan yang terbuat dari beras dicampur dengan bleng yang ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa yang di bakar atau tanpa dibakar. Sehabis sholat isyak, arak-arakan lampion diiring sesuai rute yang ditentukan. Banyak masyarakat yang antusias ikut berpartisipasi dalam perayaan ini sebaga bentuk pelestarian budaya. Dan guna untuk menyambut datangnya bulan Puasa Ramadlan.*


Admin Unisnu

Komentar